Senin, 03 Februari 2014

Cerpen



SASHA DAN ALISHA

“gara-gara lo lahir,mama meninggal ! gw benci sama lo” itulah kalimat menyakitkan yang sering keluar dari bibir manis alisha padaku.Alisha memang benci terhadapku, walaupun aku ini adalah adik kandungnya.Kebenciannya muncul saat aku dilahirkan didunia.Pada 1 januari 1996 tepat pada pukul 02.00 wib, mama melahirkanku kedunia. Namun akibat pendarahan yang sangat hebat terjadi pada rahim mama,beberapa saat kemudian beliau meninggal.
Pada waktu itu Alisha yang genap berusia 7 tahun sangat senang ketika pada hari itu  mendapatkan seorang adik. Namun beberapa jam kemudian kebahgaiaan itu sirna, takdir berkehendak lain, mama pergi untuk selamanya meninggalkan Alisha, Papa dan Aku.Sejak saat itulah Alisha menganggap ku makhluk sial yang telah membunuh mama.
Ya Tuhan...               

Namaku Sasha,dan kini usiaku 16 tahun.Aku bersekolah di SMA favorit di Jakarta. Sejak lahir aku tidak merasakan kasih sayang seorang mama, beruntunglah karena ada seorang papa yang senantiasa merawat serta menjaga ku dan seorang kakak yang ku sayangi meskipun ia sangat acuh terhadap keberadaanku.

“pa, lisha berangkat ya !” ucap alisha pada papa lalu menyalami tangannya
“iya nak, hati-hati ya!” pesan papa pada Alisha yang saat ini menjadi salah satu mahasisiwi di perguruan tinggi negeri jakarta.
“oke bos !” sahut Alisha seraya tersenyum pada papa.
“kak, aku bareng kakak yah hari ini?”ujarku pada Alisha
“apa? jangan harap deh, kamu naik angkot aja sana !” sahut Alisha kecut
”Alisha !”bentak papa, namun alisha langsung bergegas meninggalkan ruang makan.
Tak sadarkan diri, ternyata air mata ini terjatuh membasahi pipiku.
“sabar ya sayang, kita doakan saja supaya kak lisha mendapat penerangan hati dan pikiran dari Tuhan”ucap papa mendekap tubuhku.
“sampai kapan kak lisha bersikap seperti ini pada sasha pa?”tanyaku pada papa dengan nada tersendak. Namun tak ada balasan kata atau kalimat yang keluar dari mulut papa. Beliau hanya terus mengusap kepala ku dengan lembut.

----
Setibanya di sekolah,seperti hari biasanya aku mengikuti pelajaran dengan baik. Dikelas, Aku duduk sebangku dengan Mira. Ia adalah wanita yang tomboy berbeda sekali dengan ku yang sangat feminim, tetapi kami berdua adalah sahabat yang selalu setia satu sama lain.
Bel istirahat berbunyi, aku dan Mira bergegas ke kantin untuk mengisi perut dengan pilihan makanan disana.
“perhatian sebentar, maaf gw mengganggu waktu istirahat kalian. Nama gw Jerry dan gw mencari Sasha” . Aku tersentak kaget ketika namaku disebut-sebut dalam suara mic yang berasal dari siaran radio sekolah.
“Sha, kenapa tuh si Jerry?” tanya mira heran.Aku hanya menggelengkan kepala sambil memasang wajah tenang. Suara mic yang tiba-tiba tak terdengar lagi membuat ku penasaran, hingga akhirnya aku menghampiri Jerry diruang studio radio sekolah.Aku terkejut ketika membuka pintu ruangan yang ternyata telah disulap dengan hiasan bunga mawar serba indah kesukaanku.Terlihat pula Jerry yang pada saat itu berdiri ditengah ruangan sambil memegang bantal hati berwarna pink.

“what’s going on???” tanya ku heran
“sha, gw suka sama lo dan gw merasa sayang sama lo” ucap jerry dengan pasti lalu menghampiri ku.
“jerr, are you fine???” ujarku dengan hati yang berdegup tak karuan.
“yes, i’m very fine. Sha gw serius, lo mau ga jadi pacar gw?”tanya Jerry setengah berlutut menghadapku.
Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku,karena sudah lama pula aku menyukai Jerry. Aku mendekatinya dan berkata “iya, gw mau jadi pacar lo”.
---
Hari ini adalah hari pertama aku di antar pulang dari sekolah ke rumah bersama pacar baru ku, oooh senangnya hati ku yang sedang berbunga-bunga, tetapi Jerry tak sempat mampir karena waktu sudah terlalu sore.
Tak lama aku tiba dirumah,papa pun juga tiba dirumah sepulangnya dari kantor.

“Sha, kak Alisha belum pulang?”tanya papa padaku
“belum pa. Nanti aku coba telepon dia”jawabku sopan
“ya sudah kalau begitu.Papa mau istirahat dulu ya”ujar Papa lalu menuju ke kamarnya
“oke Pa”sahutku singkat
Belum sempat aku menelepon Alisha,beberapa menit kemudian alisha pun tiba dirumah.”eh kak Lisha,baru aja mau aku telepon,mau nanya kakak lagi dimana dan pulang jam berapa”ucap ku pada Alisha
“ga usah sok peduli deh sama gw”sahut alisha lalu meninggalkan ku sendiri di ruang tengah.
Aku hanya bisa mengelus dada tiap kali berhadapan dengan Alisha. Aku melangkah menuju kamar tidur lalu menggapai sebuah bingkai  yang didalamnya terdapat foto mama.
”Mama,maafin Sasha. Karena aku, mama meninggal. Sasha sedih ma, Kak Alisha ga senang dengan kehadiran Sasha.Andaikan aku ga terlahir didunia...”
---
Sore hari kala itu, langit tampak murung dengan diselimuti awan gelap serta dentuman petir yang saling bersahutan dilengkapi dengan hujan yang lebat. Apakah Tuhan sedang murka???
Kring...kring ! suara telepon berbunyi nyaring, memecahkan konsentrasi ku yang sedang mendengarkan alunan musik jazz dikamar.
Betapa terkejutnya aku ketika mendapatkan kabar dari telepon tersebut yang memberi informasi bahwa alisha mengalami kecelakaan. Aku pun begegas memberitahu papa lalu menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit,hatiku menjerit sedih ketika melihat sosok alisha yang sedang terbaring diruang UGD tak berdaya dengan berlumuran darah. Dengan cekatan, para dokter menangani luka-luka diseluruh tubuh Alisha.Sampai pada akhirnya ia di rawat diruang intensif. Dokter berkata bahwa Alisha mengalami luka parah pada kedua matanya,sehingga ia di diagnosa akan mengalami kebutaan.Musibah ini sangat menyedihkan bagiku dan juga papa. Timbul lah dalam benakku bahwa aku akan mendonorkan kedua mataku untuk Alisha. Papa tidak menyetujui ide ku,kami sempat bersitegang.Namun dengan keyakinanku,papa mengikhlaskan keinginanku ini. Hari ini adalah hari dimana aku terakhir melihat dunia, Papa, Mira dan Jerry.

Berangsur-angsur luka bekas jahitan di mata ku pun pulih,kini perban yang melingkar mengelilingi mataku pun di lepas.
”Sha, Jerry akan selalu mencintai Sasha dengan segala kekurangan Sasha”ucap Jerry yang pada saat itu berada dirumahku,ia menggenggam tangan ku dengan erat lalu kurasakan kecupan ringan mendarat dikeningku.
“makasih ya Jerr...”ucapku singkat seraya memberikan senyum padanya.

Malam harinya aku dan papa mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk Alisha yang belum pulih 100%  setelah kecelakaan beberapa waktu lalu.
“Pa,mata Alisha kunang-kunang. Pusing sekali”ucap Alisha pelan
“iya nak,wajar kamu kan sedang menjalani perawatan. Sabar ya, kamu akan sembuh kok”jawab Papa pelan.
“kak,cepat sembuh yaaa. Kita semua kangen sama kakak untuk kumpul bareng lagi dirumah.” ucapku mencoba memberi support pada alisha.
“ sorry ya! Gw sama sekali ga kangen sama lo sha !” jawab alisha acuh
“alisha hentikan ! kamu tau ga kalau mata...”ujar papa lantang, lalu aku mencoba menghentikan ucapan papa dengan menepuk bahu kanannya. Sebelumnya, Aku sempat berpesan pada papa untuk tidak memberitahukan bahwa mata yang ada pada alisha itu adalah milikku sebelum ia sembuh total.
---
Keesokan harinya,alisha diperbolehkan untuk pulang oleh dokter karena kondisi kesehatannya sudah normal kembali.
“Sha, ambilin gw minum dong. Teh manis hangat ya !”pinta Alisha pada ku. Aku pun segera mengambilkan minum untuk sang kakak dengan langkah pelan tetapi pasti.
Teh manis hangat pun telah dibuat, aku langsung membeikannya pada Alisha.
“ih apaan nih?kok asin?gw kan minta teh manis bukan teh asin !”ucap Alisha setengah berteriak lalu membuang teh yang dibuat sasha keatas lantai.
“ada apa ini?”ujar papa lantang menengahi kedua anaknya.
“itu Pa, Sasha ga bisa bedain garam sama gula. Buta kali matanya!”
“Alisha jaga mulut kamu!” bentak papa lantang
Aku hanya terdiam, hatiku sangat sedih mendengar Alisha dan Papa berseteru.
“Alisha, sudah saatnya kamu mengetahui semua...saat kecelakaan waktu lalu begitu banyak kamu mengalami pendarahan,termasuk bagian mata,kamu di diagnosa oleh dokter mengalami kebutaan.Dan kedua mata yang kamu miliki itu adalah milik sasha,dia mendonorkan mata itu untuk kamu nak.Tapi selama kamu pulih,apakah kamu tidak memperhatikan kondisi sasha yang telah cacat???”
“Papa ... “ucapku pelan,air mata ini mengalir deras seketika.
“Sasha...”ucap alisha memanggil namaku lalu mendekap tubuhku.
“Sha, kenapa kamu begitu baik sama kakak?kakak ga pernah sedikitpun berbuat baik sama kamu dik...kakak nyesel Sha! Ampuni kesalahan kakak yang udah terjadi bertahun-tahun lalu sampai saat ini Sha...”
“kak,ga usah berlutut sama aku..Aku udah maafin kak Alisha...”
Aku berusaha menggapai tubuh alisha seraya membangunkan tubuhnya dari posisi berlutut menghadapku.
“kakak janji akan merawat kamu Sha, kakak khilaf, kakak akan selalu menyayangi kamu Sha...”ucap Alisha seraya membelai lembut kepalaku, mencium serta memeluk tubuhku dengan erat.
Kondisi cacat bukanlah tanda berhentinya kehidupan bagiku sebagai sasha. Kesempurnaan fisik bukan segalanya dibandingkan kasih sayang dari keluarga,sahabat dan pacar.
-Tamat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar